Ini adalah suaraku yang paling hujung.

Sesuatu yang masih belum aku lupakan, dan mungkin tidak akan mampu untuk aku lupakan, adalah saat engkau menghentikan tangis dan mengusap rambutku perlahan.

Sudah lama rasanya aku tidak pernah menangis kerana sesiapa, atau perkara-perkara lain yang membelenggu. Bahkan itu juga alasan kenapa aku selalu cepat ketiduran, di waktu malam belum pun bertukar esok.

Aku tidak mahu berfikir tentang apa pun. Bagi aku hidup seharusnya dinikmati, bukan dipersoalkan, terutamanya masa lalu yang jawapannya cuma kebodohan.

Kita dan semua orang di dunia pernah menjadi bodoh. Namun siapa kita untuk menghakimi perihal yang lain sedang kita juga punya kebodohan yang belum dipamerkan Tuhan.

Aku tak tahu akan masa depan. Cuma yang aku tahu adalah ketidakmungkinan. Yang bakal jadi bukanlah perkara yang perlu kita khuatirkan. Cuma, ada lah di waktu kita masing-masing memerlukan.

Aku tak mungkin memberinya. Dan kau tak mungkin bisa mendapatkan. Tapi kita bisa mewujudkan keselesaan yang selamanya, tanpa perlu memikirkan salah dan dosa.

Bersetujulah tentang ini. Kerana aku ingin lebih lama lagi.

Kalian Tidak Kalah

Salam untuk saudara-saudara saya yang diambil kemenangannya bertarung nyawa dengan kanser.

Hartini, Amira, Ika.. Semoga kalian bisa lebih dekat memeluk Tuhan dan berterima kasih untuk pinjamanNya yang telah mengembalikan kalian.
Kehilangan kalian amat berbekas di hati kerana sayalah saksi keperitan kalian menjerit menahan sakit di hospital kerana ubat-ubatan yang memungkinkan kalian untuk terus hidup.

Saya tidak tahu bagaimana rasanya tetapi benarlah tentang kata-kata berat mata yang memandang, berat lagi bahu yang memikul. Kesempatan saya bersama kalian tidak lama. Tetapi masih saya ingat bagaimana saya melihat jasad kalian sampai ke rumah. Kaku tidak bernyawa.

Saya berumur 9 tahun waktu kau pergi, Hartini. Terima kasih memperkenalkan saya dengan komik Kawan, Anak-Anak Sidek, kumpulan KRU dan mengajarkan saya lagu Asmaul Husna serta Bila Izrail Datang Memanggil.

Saya tidak faham tentang kanser. Saya cuma tahu bahwa saya pasti kak Tini akan kembali pulih. Tapi sayang. 13 tahun adalah usia yang masih terlalu muda.

Ika dan Amira. Dua saudara kandung yang pergi pada tahun yang berbeza. Ika sewaktu umurnya 9 tahun, dan Amira pergi pada tahun 2015, di waktu usianya mencecah 17. Kalian anak-anak syurga.

Akan saya jaga mama dan abah kalian. Mereka juga seperti mama dan abah saya. Kalian anak yang taat ibu bapa dan Tuhan juga tahu yang baik itu akan Dia ambil dahulu untuk dekat-dekat denganNya.

Surat ini untuk kalian dari saya yang merasa kesal kerana tidak banyak masa dan bicara dengan kalian. Maafkan saya menjadi saudara yang cuma mampu meluangkan masa yang cuma sekejap.

Saya tahu kita akan kembali berjumpa. Tunggulah saya di tanah yang dijanjikan itu. Di situ akan kita bicara sepuasnya. Akan kita cerita pengalaman-pengalaman kita di dunia, di alam kubur, dan juga yang ada di syurga kita. Di situ kita akan menang selama-lamanya.

Kalian tidak kalah. Cuma kemenangan kalian ditangguhkan untuk sementara. Semoga kalian yang saya rindukan berada di kalangan orang yang beriman dan dilimpahi rahmat di sisi Tuhan.

Selamatkan aku, Bang!

Bang, aku mungkin tidak sempat berkenalan denganmu di hari itu. Bahkan aku juga tidak tahu caranya. Aku tidak tahu wajahmu seperti apa. Yang aku ingat  cuma rambutmu yang sedikit kerinting dan kau memakai baju berwarna kuning kecoklatan.

Bermula dari hari itu, aku mungkin menjadi orang yang paling bersyukur di muka bumi ini. Bang, kau mungkin melupai aku atau bahkan membenciku kerana aku tidak pernah mengucapkan terima kasih kepadamu.

Tapi ketahuilah, salah satu sebab aku masih ada pada hari ini adalah kerana kebaikanmu. 18 tahun berlalu dan aku tahu aku sudah tak punya lagi kesempatan itu. Tetapi keikhlasan ini masih terbuku dan surat ini aku tuliskan untukmu, Bang.

Terima kasih kerana melihatku yang bertarung nyawa dengan pusaran air itu. Terima kasih menjadi penyelamat untuk aku terus bernyawa pada hari ini. Buku hutang itu telah mencatatkan dua perkara atas namaku. Pertama nyawa, kedua budi.
Kaulah wira keduaku selepas abah. Malah abah juga tidak pernah tahu tentang itu. Terima kasih semesta, kerana mengurniakan insan baik sepertimu, Bang.

Kau di mana sekarang, Bang? Sudah berkahwinkah kau? Jika belum, aku pinta kau selamatkanlah aku sekali lagi untuk lemas dalam pusaran cintamu.

Surat Cinta Penuh BenciĀ 

Salam, aku menulis semua ini dengan penuh rasa sakit yang telah lama aku hantarkan ke Tuhan. Dan rasa itu tak akan aku ulangkan kembali di waktu bila pun.

Di sini cuma ada pesan yang ingin aku titipkan supaya jelas, bahwa yang berlalu tak akan sekali-sekali berulang. Doaku semoga di suatu hari nanti, anak perempuanmu akan membesar sepertiku.

Ya, seperti anak normal yang lain. Melewati zaman remajanya dengan penuh riang dan gembira. Menjadi lumrah sebagai anak remaja, akan ada laki-laki yang mula melihatnya, dan ingin mengambil hatinya.

Semoga lelaki itu menjadi sepertimu, yang sentiasa membunuh hati perawan-perawan dengan cinta, lelaki yang sentiasa berdusta dengan sumpah janji setia.

Semoga anak gadismu berkali-kali dikecewakannya, lebih dari apa yang kau lakukan sewaktu kau muda dahulu. Dan semoga akhirnya anak gadismu itu sudah tidak mau menjadi dirinya sendiri..

..bukan untuk berhenti mencintai lelaki, tetapi untuk tetap meneruskan cintanya yang masih berbaki kepada jenisnya sendiri.

Semoga kesal datang terlambat mengetuk pintu jiwamu dan tidak akan pernah datang menjenguk hati anak perempuanmu.

Kepada kau yang mewarnaiku dalam diam

Kepada engkau yang sentiasa terbentang luas dengan warna dan cahaya,

Terima kasih kerana menjadi perkara paling istimewa untuk aku tatap dan tenungkan saat galau. Saat aku tak bisa merasa syukur dan suka dengan hidup dan semesta.

Kerajaanmu diliputi kesucian yang terlukis pada awan. Sesekali kau selami hatiku dengan kilatan dan hitam mencurah sebagai hujan. Dan apabila mereka tidak tahu untuk memilih cuaca, kau hadiahkan tujuh warnanya membias mata jiwa.

Aku senang untuk cuma diam memandangmu. Biar di waktu kau membiru, jingga mahupun violet. Warna-warnamu adalah hidup dan setiap satunya memahami rasa yang selalunya tidak dapat aku ucap di bibir.

Usah katakan tentangku yang selalu kau lihat di setiap hari dalam sembunyi-sembunyimu. Jangan bilang padaku bahawa akulah yang sentiasa kau tunggu di tiap munculnya matahari. Jangan suarakan di telingaku bahawa akulah penutup hari mu agar kau dapat bermimpi indah hingga ke bima sakti.

Diam saja, Langit. Kerana aku juga sama.

Kediaman ini begitu tenang sehingga aku tidak mendengar bingit bingar yang lain. Yang ada cuma kita. Berdua dan menyatu di hadapan lautan. Saat ini aku cuma mahu menikmatimu dalam keselesaan yang sempurna..

..yang melengkapi semua ketidaksempurnaanku.

I’m done fixing us.

Z,

I hope that you are doing well. I am really sorry for everything that I’ve done or that I regret I didn’t. 

Sometimes I just wonder by myself, did you ever miss me or think about me and all the great years that we’ve been through?

It is crazy and unbe-bloody-lievable that our friendship has come to an awkwardness. No matter how many times you said that we are okay, but I know deep in your heart, you are not. And I am not.

Thank you for helping me when I was in need. For never questioning anything much when I’m asking for your help. Thank you for being such a very good friend to me.

I know all the words in the world cannot heal the pain I have caused, cannot fix our things back together. But seriously, deep in my heart, I hope that someday you will miss me, too.

There’s nothing I can do except writing to you this letter which I know you would not even know it exists. I feel so ashamed trying to glue our friendship back when I’m the one who broke it. 

I know that you dont want me to step in your life anymore. My silence is not because I did not try hard enough for asking you to forgive me, it is just because I know that you are happy with your life right now.

I hope mak, bapak, your younger brother and twin sisters are in the pink of health. Take care of them as well as you take care of yourself.

Just a few reminder here, sweep and mop the floor and put things back at their place after using it. Shoes belong to the rack. Buy a new closet and clean the workspace and your room neatly. Clean the toilet, too. It’s important. I cannot remember when was the last time I did all that.

It is funny that I can still remember our promise that if our age have reached 30 years old and we wouldn’t have partners, we’ll be getting married together. 

You are my bestfriend but I’ve hurt you the most. To me, no one in the world can be you. Nobody in the world could be you. 

But somehow, Z, things too, must change. Neither I didn’t hear anything from you anymore nor asking about it. We’ve been eaten by our time and our ego.

I’m so sorry for not doing the best enough to save this friendship. Yes I’m the one that is guilty, but this heart, too, know when to stop apologizing.

Just so you know, when you feel that there’s no one in the world that you can rely on, I am still here.

I will always be here. For you.